APA MOTIF DI BALIK TRAGEDI DOGIYAI BERDARAH?
Tragedi berdarah di Dogiyai pada Minggu Sengsara yang menelan korban tewas 5 warga sipil dan beberapa orang terluka berawal dari penemuan mayat almarhum Juventus Edowai di depan Gereja Ebenezer Kimupugi di Moanemani.
Menurut informasi dari pihak kepolisian setempat bahwa polisi JE pada malamnya menjaga piket hingga pagi jam 07. 00 WIT. Dan pada 08.30 WIT polisi JE ditemukan tewas di depan Gereja di dalam parit. Yang menemukan mayat JE adalah dari para polisi.
Informasi tentang penemuan mayat didengar oleh Kepala Distrik Moanemani, Pak Markus Auwe. Ia didampingi oleh Kapolsek Moanemani menuju ke Tempat Kejadian Perkara. Namun, ia dihadang oleh para polisi. Dua kali ia berusaha meminta polisi untuk izinkan masuk ke TKP, tetapi para polisi tidak izinkan.
Mengapa kepala Distrik Moanemani tidak izinkan masuk ke TKP? Dari kejadian ini, dapat dipridiksi bahwa ada yang ganjal dan ada sesuatu yang disembunyikan.
A. SIAPA YANG MEMBUNUH POLISI JUVENTUS EDOWAI?
Polisi Edowai ditemukan tewas oleh Polisi di dalam parit di depan Gereja di Kimupugi. Tak ada yang mengetahui siapa pelakunya. Hingga kini belum ada pengakuan.
Ada lima point keganjalan dalam tragedi tewasnya Polisi Yuventus Edowai, yaitu:
1). TKP diragukan karena hanya ditemukan di pinggir jalan di Parit di depan Gereja.
2). Pelaku tidak jelas padahal dikabarkan terjadi di dalam kota pada pagi hari yang tentu ada warga di sekitarnya.
3). Luka serius di tubuh korban yang tentu tidak terjadi sekejab.
4). Korban ialah polisi anak muda, maka pasti ada perlawanan kepada pelaku, maka tentu cepat diketahui oleh orang di sekitarnya.
5). Tindakan polisi bukan langsung olah TKP dan Penelusuran dengan cara memintai keterangan kepada warga sekitar TKP, tetapi malahan melakukan penyisiran dan penembakan sehingga mengabaikan kejar pelaku, tetapi justru membunuh warga sekitar yang tidak bersalah.
Apakah polisi Edowai ini dibunuh di tempat lain, lalu datang buang di depan Gereja di Kimupugi? Apakah warga sipil yang membunuh Polisi JE lalu dibuang di depan Gereja, ataukah dari pihak keamanan yang membunuh Polisi JE karena dia dekat dengan para pemuda Dogiyai?
Akibat dari pembunuhan misterius itu, gabungan TNI POLRI menewaskan 5 orang warga sipil dan berapa orang luka ringan dan berat.
Adanya isu disebarkan bahwa pihak Edowai akan lepaskan kego "TUNIBAI" (mengirim makhluk halus untuk mendatangkan malapetaka bagi pelaku). Namun, isu ini dibantah oleh pihak Edowai bahwa isu itu tidak benar.
Menanggapi isu "lepaskan tunibai", ada pemuda dari Dogiyai menanggapi bahwa para TNI POLRI asal suku Mee akan dibunuh karena warga Dogiyai 4 orang tewas dan berapa orang luka luka.
B. ANALISIS MASALAH
1. Menciptakan Konflik Antara Suku Mee
Kami menyimpulkan bahwa di balik kasus ini kaki tangan NKRI sedang bermain untuk menciptakan konflik sosial di antara suku Mee, yang bertujuan untuk memecah belah kesatuan suku Mee, yang akan berdampak buruk pada kesatuan kita dalam perjuangan bangsa Papua.
Hati-hati memprovokasi warga untuk konflik sosial antar suku Mee, khususnya antara Dogiyai dan Deiyai. Mari kita merawat persatuan dan kesatuan yang sudah lama dibangun.
Bagi yang memprovokasi untuk menciptakan konflik antara suku Mee adalah orang-orang yang dipakai musuh untuk menghancurkan kesatuan suku Mee.
2. Menggagalkan Rencana Diskusi Publik.
Sebelum ditemukan mayat polisi JE, para pemuda Dogiyai berencana menggelar diskusi publik. Diskusi itu rencana digelar pada tanggal 1 April 2026. Sehari sebelum tragedi berdarah itu, para pemuda di Dogiyai menyampaikan informasi melalui berbagai media on line, juga langsung turun jalan dengan memakai mengaphone mengajak masyarakat bergabung dalam diskusi publik itu.
Materi diskusi publik yang hendak dibahas bersama pada 1 April 2026 adalah tentang Sejarah Politik bangsa Papua dan Mencari Solusi Penyelesaian atas status politik bangsa Papua.
Dengan adanya tragedi berdarah pada 31 Maret 2026, maka rencana diskusi Publik yang berencana digelar di Aula Serba Guna di jantung kota Moanemani, tidak digelar.
3. Terus Memelihara Konflik
Satu Minggu sebelumnya, semua pihak di Dogiyai telah mendeklarasi Dogiyai Aman dan Damai. Dalam deklarasi itu mengeluarkan beberapa point untuk ditaati oleh penduduk Dogiyai dalam rangka mewujudkan kedamaian. Pernyataan Deklarasi Dogiyai Aman dan Damai itu ditanda tangani oleh berbagai pihak di Dogiyai. Dalam satu Minggu pasca deklarasi, kota Dogiyai sunyi dan sepi (aman dan damai).
Setelah beberapa hari kemudian, ada operasi kilat mencuri barang milik Gereja dan Sekolah. Operasi ini ada indikasi dikendalikan oleh pihak tertentu untuk mempertahankan suasana yang tidak kondusif di Dogiyai.
Para pencuri itu sudah berhasil ditangkap. Dan pada tanggal 31 Maret 2026 berencana hendak mencari tahu siapa sponsor (aktor) di balik pencurian itu. Namun, hari itu terjadi insiden penemuan mayat polisi JE dan dibalas dengan penyisiran membabi buta oleh gabungan TNI dan Polisi sehingga untuk mencari tahu aktor dibalik pencurian itu digagalkan.
Apakah dalang pencurian itu adalah pihak aparat keamanan? Entahlah.
4. Mendepopulasi Orang Asli Papua
Penemuan mayat polisi JE membangkitkan amarah Polri di Dogiyai sehingga terjadi penembakan terhadap warga sipil Dogiyai (OAP). Tragedi berdarah di Dogiyai mengakibatkan Lima Korban mati tempat dan beberapa korban kritis:
👉🏾 Korban Meninggal Dunia. Ada lima orang ditembak mati oleh gabungan TNI POLRI, yaitu:
1. Siprianus Tibakoto umur (25) Tahun, mati tempat, tempat asal Kamuu Selatan, kejadian di Kampung Ikebo, Distrik Kamuu, Kabupatèn Dogiyai pada 31 Maret 2026.
2. Yulita Pigai umur (60) tembak mati tempat dalam rumah pribadi, kampung Ikebo, Distrik Kamuu, Kabupatèn Dogiyai pada 31 Maret 2026.
3. Martinus Yobee umur (17) SD Negeri Moanemani kelas 6, Mati tempat, kampung Idakotu, Distrik Kamuu, Kabupatèn Dogiyai pada 31 Maret 2026.
4. Angkian Edowai umur (20), mati tempat Warga Sipil Kampung Denemani,Distrik Dogiyai, Kabupatèn Dogiyai pada 1 April 2026 jam 01.54 WIT.
5. Peri Auwe, yang dilaporkan tertembak pada Kamis subuh (2/4/2026) sekitar pukul 02.00 WIT.
👉🏾 Korban Luka-Luka. Ada beberapa orang korban luka ringan dan berat, antara lain:
1. Kikibi Pigai.
2. Maikel Waine.
3. Magapai Yobee.
4. Magapai Waine.
👉🏾 Korban di Pihak Kepolisian. Korban Meninggal dunia adalah Juventus Edowai yang memicu tragedi berdarah. Dan korban luka adalah polusi Abius Yawan terkena panah di punggung belakang dan berencana operasi.
👉🏾 Korban Materi. Sekitar dua mobil truk di bakar dan sebuah rumah somel kayu di bakar.
C. KESIMPULAN
Tragedi berdarah 31 Maret 2026 di Dogiyai adalah tragedi kemanusiaan, yang diduga diskenariokan sebelumnya oleh aparat keamanan untuk terus memelihara konflik di Dogiyai. Sehingga dibutuhkan penanganan segera dari Komnas HAM RI.
Tragedi ini harus ditangani segera oleh Komnas HAM RI dengan membentuk TIM PENCARI FAKTA (TGF) karena tragedi ini tergolong pelanggaran HAM berat.
Berikut ini indikasi pelanggaran HAM Berat, antara lain:
1. Penyerangan membabi buta kepada warga sipil di bawah komando Kepolisian dan TNI dengan menggunakan Senjata Api.
2. Teror dan penyiksaan serta penembakan membabi buta yang menyebabkan korban fisik, psikis dan dan korban nyawa.
3. Mengakibatkan pengungsian warga sipil ke Kampung atau Kabupaten terdekat.
Tak ada yang kebal hukum di Republik konaha ini. Para pelaku harus diproses hukum dan harus dipenjara.
(Oleh: Selpius Bobii, Aktivis HAM, Eks Tapol Papua)

Post a Comment for "APA MOTIF DI BALIK TRAGEDI DOGIYAI BERDARAH? "